Akhir kisah dari Laki-Laki Itu

Kalau kita dihadapkan pada 2 pilihan, antara harapan kosong dan kepastian, mana yang akan kita pilih??
Sudah pasti kita akan memilih kepastian, tapi jika kepastian itu perlahan-lahan di goyahkan oleh harapan yang mulai tumbuh??
Apa yang akan dilakukan??
Aku akan tetap memilih kepastian itu.

Saat ini aku sudah tidak sendiri, aku sudah memiliki seseorang yang akan menemani hari-hari ku, yang bersedia membagi suka dan dukanya, yang akan menjaga ku saat kerapuhan menghampiriku,
tapi kenapa Laki-Laki itu datang lagi saat aku sudah tidak sendiri??
andai saja dia belajar untuk menyingkapi sekitar lebih cepat, dan andai saja dia mau memberitahu aku akan hal itu, mungkin aku masih bisa menunggu, karena aku tahu harapan itu mulai ada,
tapi apa ini semua salah aku???
Dia yang tak pernah bicara, dia yang membiarkan aku menebak2 saja seperti apa perasaan’a, bahkan saat aku benar2 bertanya seperti apa perasaan’a, dia masih bungkam, dia lebih memilih diam akan perasaan’a.
Wahai Laki-Laki, sungguh ini bukan salah ku, aku hanya menerima mereka yang sungguh-sungguh ingin bersama ku, bukan yang hanya sekedar masih menebak2 apa yang dia rasakan.

Tapi kenapa saat aku yang meminta dia menjauh aku tidak bisa??? aku merasa tak sanggup untuk mengatakan “Jangan deket lagi sama aku, buat menjaga perasaan kita masing-masing.” Tapi aku terlalu naif, aku terlalu egois, aku sudah punya yang bersedia menjaga ku, apa itu belum cukup???
Aku bukan ingin menghianati yang sudah menjadi milikku, tapi aku hanya tidak ingin merasakan perasaan hampa di hati, aku sadar jika Laki-Laki itu pergi aku akan merasa hampa, sekalipun hanya sekejap, aku hanya ingin semua lengkap.
Kekasih ku, aku mohon maaf,

Laki-Laki itu, maafkan aku jika terlalu egois, maafkan aku sudah memberi rasa sayang walaupun sebentar, dan maafkan aku karna aku pun sudah membuat kamu sayang sama aku, tapi aku tinggalkan kamu saat rasa itu mulai tumbuh.
Satu pesan dari ku,
“suatu hari nanti, jika ada seorang gadis lagi yang datang kedalam hidupmu, dan dia menemani hari-hari mu, dan dia sudah memberikan tanda akan perasaannya,
dan kalau kamu pun merasakan hal yang sama, maka KATAKANLAH pada diri’a, utarakan perasaan kamu yang sebenarnya, jangan pernah kamu pendam, jangan pernah kamu diam,
tapi kalau seandai’a kamu tidak merasakan perasaan seperti dia, jangan pernah sakiti dia, katakan dari awal dan jangan beri dia harapan, jangan sampai gadis itu merasakan kebingungan dan ketidak pastian seperti yang aku rasakan.”

Dan semoga jalan yang akan kita tempuh merupakan jalan terbaik bagi kita, dan mungkin kita memang digariskan untuk tidak saling memiliki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s