Ini Tentang Seorang Ayah

Ini tentang seorang ayah. Ayah yang sejak aku berumur 9 tahun hingga aku berumur 19 tahun masih ada di sekitarku. Ayah yang sangat jutek saat dia harus berhadapan dengan ku. Ayah yang sangat keras terhadap argumennya. Ayah yang sangat tidak menyukai ku saat aku beranjak dewasa. Ayah yang selalu memarahiku entah aku salah atau benar. Ayah yang saat bicara padaku pun tidak melihat mataku. Ayah yang benar2 ingin aku jauhi saat aku menjadi pegawai nanti. Ayah yang tidak pernah aku harapkan karena dalam pandanganku dia bukanlah ayah yang baik.

Ayah yang ternyata diam2 selalu memperhatikan pertumbuhanku. Ayah yang ternyata diam2 membuatkan ku kue saat mengunjuiku di diklat.  Ayah yang ternyata selalu bangga pada anak “PERTAMANYA”. Ayah yang diam-diam selalu menceritakan “ANAK PERTAMANYA” kepada teman-teman sekantor’a. Ayah yang rela memberikan apa yang dia punya saat “ANAK PERTAMANYA” membutuhkan. Ayah yang ternyata selalu mengkhawatirkan saat aku tidak lagi berjalan lurus.

Ayah yang selalu berjuang 9 tahun lamanya tanpa mendapatkan uang gajian. Ayah yang selalu setia membela kantornya sedangkan para nasabah selalu mencacinya. Ayah yang selalu makan terakhir sehingga anak-anaknya bisa kenyang. Ayah yang rela mengurusi urusan rumah saat istrinya sedang sakit. Ayah yang selalu masak agar istrinya bisa bersantai. Ayah yang sangat mencintai istri dan keluarga melebihi dia mencintai dirinya sendiri.

Itu lah ayah ku, ayah yang tak pernah sempat ku bahagiakan.

Advertisements

Selamat Jalan Papa

Semua penyesalan memang selalu terakhir, sama seperti penyesalan aku ke Papa. Tanggal 31 Agustus 2010, itu merupakan tanggal dimana penyesalan, kesedihan, hancur, ketabahan dan kesabaran benar2 di uji. Papa ku meninggal pada Hari Selasa, 31 Agustus 2010 pukul 00.15 di rumah kami yang sederhana dan di temani aku dan mama.
Semua bermula dari tanggal 14 Agustus 2010, Silahkan Lanjutkan Bacanya

i missed the time when i have a father

sudah lama, sudah lama sejak aku kelas 3 SD. tapi baru bener2 sekarang aku sadar. Kalau aku cuma punya ibu. Aku cuma punya sosok ibu yang bisa ngertiin aku, yang bisa jadi panutan, yang bisa jadi pelindung. Untuk membimbing aku jadi anak yang bisa seperti sekarang, sekalipun masih belum bisa di banggakan. Aku yakin dia sudah sukses jadi single parent. Hanya saja dia masih punya suami yang ngebiayain aku.
Udah gak ada harapan lagi buat ngebalikin hubungan ini. yang bisa aku lakuin sekarang cuma berusaha gak bikin mama sakit hati karna kelakuan kita berdua. Aku sayang mama, dan gak pernah sanggup kehilangan dia, aku janji bakal urus wulan. karna dia udah jadi tanggung jawab aku sekarang…
Should i hate my father?????
i dont know, yang jelas aku udah gak bisa lagi nganggep dia jadi ayah q. Udah lewat semua, q gak pernah rasain punya seorang ayah…..